Mengingat datangnya bulan Ramadhan yang sebentar lagi, maka
akan kami terangkan beberapa materi yang berkaitan erat dengan bulan suci ini,
sebagai upaya untuk meneladani RasulullahShallallahu'alaihi Wasallam yang
senantiasa memberikan nasehat dan petuah kepada para sahabat beliau.
Dari Abu Hurairah
radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda:
“Telah datang kepada kalian
Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah Ta’ala wajibkan kalian untuk berpuasa
padanya, dibukakan padanya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka
Jahim, dan dibelenggu setansetan yang membangkang. Pada bulan tersebut, Allah
memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (seseorang beribadah
selama itu). Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang
terhalang (dari seluruh kebaikan)”.
Takhrij singkat
hadits
Hadits ini shahih. Hadits yang mulia dengan lafazh seperti
ini diriwayatkan oleh an-Nasa-i (2106) dan Ahmad (12/59). Dan diriwayatkan pula
oleh Ibnu Majah (1644) dari hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu. Lihat
Shahih al-Jami’ (55) dan Shahih atTarghib wat Tarhib (1/241 nomor 999 dan
1000). Dan sebagian lafazh dan makna hadits ini juga diriwayatkan oleh
al-Bukhari (1899 dan 3277), dan Muslim (2/758 nomor 1079).
Penjelasan hadits
Berkenaan dengan lafazh hadits di atas, berikut ini kami
bawakan kepada segenap pembaca; untaian mutiara nasehat yang disampaikan oleh
Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah, yang pernah beliau sampaikan
pada malam Jumat, 27 Sya’ban 1423 H, di Masjid Dzunnurrain, kota Madinah, Saudi
Arabia. Dengan beberapa penjelasan dari penulis pada catatan kaki, tanpa
mengurangi sedikit pun maksud dari subtansi nasehat beliau ini.
Beliau menjelaskan:
Mengingat datangnya bulan Ramadhan yang sebentar lagi, maka
akan kami terangkan beberapa materi yang berkaitan erat dengan bulan suci ini,
sebagai upaya untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang
senantiasa memberikan nasehat dan petuah kepada para sahabat beliau, terkhusus
ketika bulan Ramadhan tiba. Bulan Ramadhan benar-benar bulan yang sangat agung,
satu bulan yang amat istimewa, bulan yang menjanjikan banyak pahala hingga
tidak terbatas besarnya bagi orang yang menggunakannya dengan ibadah puasa dan
qiyamul lail (shalat malam).
Al-Imam Bukhari (2014) dan al-Imam Muslim (1/523 nomor 760)
telah meriwayatkan dari Abi Hurairah radhiallahu’anhu dan para sahabat lainnya,
bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa
Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah, niscaya
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melaksanakan qiyamullail
pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari
Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau”.
Karena itulah, bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan emas
dari sekian banyak kesempatan yang sarat dengan kebaikan dan sebuah masa yang
menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia.
Sebagian ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim
limpahan kebaikan ini. Di antaranya:
1.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, (728
H) mengingatkan bahwa dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah seorang
hamba sangat memerlukan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah Ta’ala. Cara
memperoleh hal tersebut adalah dengan bertawakal kepada Allahl. Salah satu
teladan ulama salaf, sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba, mereka tekun
berdoa dan memohon kepada Allah, agar dapat menjumpai bulan Ramadhan kembali
dan meminta kepadaNya agar mereka dimudahkan dalam menggali keutamaannya. Dan
ini merupakan bentuk cerminan berserah diri kepada Allah1.Beliau menambahkan,
dalam melaksanakan sebuah ibadah, seorang Muslim harus memperhatikan beberapa
hal; dalam menjelang dan menyongsong Ramadhan, pada saat berlangsungnya, serta
pasca pelaksanaannya.
·
Hal yang dibutuhkan sebelum beramal adalah
menunjukkan sikap tawakkal kepada Allah dan sematamata berharap kepada-Nya,
agar senantiasa membantu dan meluruskan amalannya 2. Ibnu Qayyim rahimahullah
(751 H) memberitahukan, para ulama sepakat bahwa salah satu indikasi taufiq
Allah kepada hamba-Nya adalah tatkala ia mengharapkan pertolongan-Nya dan
bantuan-Nya. Dan (sebaliknya), salah satu ciri dari kenistaan seorang hamba
adalah tatkala ia hanya bersandar pada kepercayaan dan kemampuan dirinya
semata, tanpa berharap sedikitpun kepada pertolongan dan bantuan Allah3.
Mengokohkan tawakkal kepada Allah merupakan
modal utama yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah, guna
menumbuhkan sikap pengakuan atas ketidakberdayaan seorang hamba dalam
menunaikan ibadahnya secara sempurna, dan guna menyelamatkan diri dari
kemungkinan terjerumusnya hamba tersebut ke dalam lembah kehinaan dan
kenistaan, apabila ia tidak mendapat taufiq dari Sang Pencipta dalam ibadahnya.
Selanjutnya, ia pun harus berdoa dengan penuh harap, supaya dapat bersua
kembali dengan Ramadhan pada kesempatan yang akan datang. Juga agar Allah
berkenan menolong dan meluruskan amalannya. Langkah-langkah ini termasuk amalan
paling agung yang dapat mendatangkan taufiq Allah dalam menghidupi bulan
Ramadhan ini (dengan melakukan berbagai ibadah).
·
Saat pelaksanaan ibadah hingga penyelesaiannya,
hal terpenting yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah ikhlas dalam
beramal dan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam.
·
Usai pelaksanaan ibadah, yang harus dikerjakan
adalah memperbanyak kuantitas istighfar (memohon ampunan Allah) atas kelalaian
dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Di samping itu, harus meningkatkan
intensitas hamdalah kepada Allah yang telah memberinya taufiq. Apabila seorang
insan bisa memadukan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah
Ta’ala amalan tersebut akan diterima oleh Allah. Hal-hal di atas harus
diperhatikan dengan sungguh-sungguh, karena setan senantiasa mengintai manusia
sampai detik-detik terakhir hayatnya, bahkan setelah seorang rampung dalam
ibadahnya sekalipun! Makhluk ini tak pernah berhenti mengganggu ibadah seorang
Muslim, menghembuskan keraguan serta tipu dayanya, dengan membisikkan, “Hai
Fulan, engkau telah berbuat begini dan begitu, engkau telah berpuasa Ramadhan,
engkau telah shalat malam di bulan suci ini, engkau telah menunaikan amalan ini
dan itu dengan sempurna…”. Dia terus mengungkit-ungkit seluruh amalan yang
telah dilakukan, hingga tumbuhlah rasa ‘ujub (bangga dan takjub) yang dapat
mengantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga berakibat terkikisnya tawadhu’
(rasa rendah diri) dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Maka, sudah seharusnya
kita tidak terjebak dalam jaring-jaring perangkap ‘ujub ini. Orang yang merasa
silau dengan dirinya sendiri dan amal ibadahnya, pada hakikatnya telah
menunjukkan kenistaan dan kehinaan serta kekurangan dalam amalannya.
2.
Sebelum Ramadhan tiba, hal lain yang harus
dilakukan seorang hamba adalah bertaubat kepada Allah Ta’ala. Banyak sekali
dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat, sebab seorang Muslim
pasti tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Dosa hanya akan mengasingkannya dari
taufiq Allah sehingga tidak kuasa untuk beramal shalih. Ini semua merupakan
dampak buruk dari dosa yang diperbuatnya. Namun, jika ia mau bertaubat kepada
Allah Ta’ala, maka prahara ini akan sirna. Dan Allah Ta’ala akan
menganugerahkan taufiq kembali untuknya. Taubat nashuha atau taubat yang
sebenar-benarnya, pada hakikatnya adalah bertaubat kepada Allah dari segala
dosa. Sebagian ulama menjabarkan, taubat yang sempurna adalah taubat dari
segala jenis dosa, bertekad bulat dan berniat kuat untuk tidak kembali dan tidak
mengulangi dosa tersebut. Jika dosa itu bersangkutan erat dengan manusia
(seperti mencuri dan yang sejenisnya); maka dia harus mengembalikannya kepada
si pemilik. Ada sebuah kekeliruan yang harus diwaspadai, sebagian orang
terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat
maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja. Ini tentu saja merupakan
kebodohan! Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan
berlepas diri serta meninggalkan maksiat tadi, seharusnya tetap ada; baik di
bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan selanjutnya. Tidak dinamakan taubat yang
sejati apabila seseorang bertaubat di satu waktu, kemudian ia berencana untuk
melanggarnya kembali di waktu-waktu lainnya. Model taubat seperti ini jelas
tidak akan dikabulkan, sebab salah satu syarat terkabulnya taubat adalah
bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi kembali perbuatan
dosa tadi.
3.
Sisi lain yang harus mendapatkan perhatian
ekstra, bagaimana kita berusaha membentengi ibadah puasa kita dari
faktor-faktor yang dapat mengurangi keutuhan pahalanya? Seperti ghibah
(membicarakan aib dan kekurangan orang lain) dan namimah (mengadu domba). Ini
adalah dua penyakit kronis yang berbahaya, akan tetapi sedikit sekali insan
yang selamat darinya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, niscaya Allah
tidak berkepentingan dengan penahanan dirinya dari makanan dan minuman
(puasanya)”4.Ahlul ilmi berbeda pandangan tentang makna hadits tersebut.
Sebagian mereka melihat bahwasanya ghibah dan namimah membatalkan pahala puasa
dan tidak menyisakan sedikitpun. Dan pendapat lainnya menyatakan, ghibah dan
namimah mengurangi pahala puasa dan bahkan kadang-kadang hanya tersisa sedikit,
artinya ibadah puasanya tidak bermanfaat5.
Orang yang mengekang lidahnya dari ghibah dan
namimah ketika berpuasa Ramadhan, tanpa diiringi dengan amalan-amalan sunnah
lebih baik daripada orang yang berpuasa dengan menghidupkan amalan-amalan
sunnah, namun tetap melakukan dua kebiasaan buruk tadi! Inilah realita yang
terjadi pada mayoritas masyarakat, ketaatan yang masih bercampur-baur dengan
kemaksiatan.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (101 H) pernah
ditanya tentang arti takwa, beliau jelaskan, “Takwa itu melaksanakan kewajiban
dan meninggalkan perbuatan haram”6.
Para ulama menegaskan, “Inilah takwa yang sejati.
Adapun mencampur-adukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, ini tidak masuk dalam
hakikat takwa, meskipun diiringi dengan amalan-amalan sunnah”. Oleh sebab itu,
para ulama merasa heran terhadap orang yang menahan diri (berpuasa) dari
hal-hal yang mubah, sementara ia masih saja aktif berbuat dosa.
Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) menjelaskan, “Kewajiban
seorang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan larangan
agama. Mengekang diri dari makanan, minuman, jima’, sebenarnya hanya sekedar
menahan diri dari hal-hal yang yang dibolehkan. Sementara itu, ada
larangan-larangan yang tidak boleh kita langgar, baik di bulan Ramadhan maupun
di bulan lainnya. Di bulan suci, larangan tersebut tentunya menjadi lebih
tegas”. Maka, sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan
diri) dari hal-hal yang (pada dasarnya) dibolehkan seperti makan dan minum,
namun tidak merasa berat dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan
pada sepanjang masa; seperti ghibah, namimah, mencaci, mencela, mengumpat.
Semua ini tentunya menggugurkan ganjaran puasa.
4.
Hendaknya orang yang berpuasa memprioritaskan
amalan faraidh (yang wajib-wajib). Aktifitas yang paling wajib dilaksanakan
pada bulan Ramadhan ialah mendirikan shalat lima waktu secara berjamaah di
masjid (bagi laki-laki), dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertinggal
takbiratul ihram. Dalam suatu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa melaksanakan shalat empat puluh hari secara berjamaah dan ia
mendapati takbiratul ihram, ditulis baginya dua jaminan kebebasan, bebas dari
api neraka dan bebas sifat nifaq (kemunafikan)”. Hadits ini shahih7.Seandainya
kita ternyata termasuk orang-orang mufarrith (banyak menyia-nyiakan waktu untuk
beramal shalih), amalannya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita
memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjamaah di masjid
serta berusaha sesegera mungkin berangkat menuju masjid sebelum tiba waktunya.
Sesungguhnya menjaga faraidh (kewajiban) di bulan Ramadhan adalah suatu ibadah
dan taqarrub yang paling agung di sisi Allah.\
Namun, ada satu hal yang sangat
memprihatinkan, ada orang yang berapi-api untuk melaksanakan shalat tarawih,
bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun amat disayangkan, ternyata ia
tidak menjaga shalat lima waktunya dengan berjamaah. Bahkan ia mengutamakan
tidur hingga melewatkan shalat wajib, dengan dalih sebagai persiapan fisik untuk
shalat tarawih! Ini merupakan suatu kebodohan dan pelecehan terhadap kewajiban!
Sungguh jika ia hanya mendirikan shalat lima waktu saja secara berjamaah
bersama imam, tanpa ikut shalat tarawih dalam satu malam; hal itu jauh lebih
baik daripada ia mengerjakan shalat tarawih, namun berdampak menyia-nyiakan
kewajiban shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata terhadap
shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang Muslim itu dapat menggabungkan
antara keduanya, memberikan perhatian khusus terhadap kewajiban (shalat lima
waktu), kemudian melangkah menuju amalan sunnah seperti shalat tarawih dan yang
lainnya8.
5.
Setiap Muslim, di bulan berkah ini hendaknya
berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan lailatul qodar.
Sebagaimana tuntunan hadits Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Carilah oleh kalian keutamaan lailatul
qodar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”9.
Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap
Muslim menyingsingkan lengan bajunya untuk mencarinya dengan memperbanyak amal
ibadah dengan sungguh-sungguh. As-Salafush Shalih berusaha meraih malam ini
pada malam ke-21, sebagian yang lain malam ke-23, sebagian yang lain malam
ke-27, sebagian yang lain mencari pada malam ke-24, dan hampir-hampir di semua
malam-malam ini (pada 10 hari terakhir) ada pendapat ulama yang berkaitan
dengan lailatul qodar10.
Logis sekali jika kita berusaha dengan
maksimal pada 10 hari ini menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah
sehingga kita bisa meraih pahala dari-Nya. Dengan hanya sedikit amalan, kita
bisa meraih pahala yang begitu besar! Lantaran orang yang beramal di malam
lailatul qodar ini akan menyamai amalan ibadah selama 1000 bulan. Kalau ada
orang tidak berusaha mencarinya kecuali pada satu malam tertentu saja dalam
setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qodar jatuh pada tanggal ini atau
itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan
pernah sama sekali mendapatkan keutamaan tersebut. Dan selanjutnya, mungkin
hanya penyesalan yang ada.
Sekali lagi, sepantasnya setiap Muslim
beramal dan beribadah di setiap malam sepuluh terakhir itu seraya berkata di
dalam jiwanya, “Malam ini adalah malam lailatul qodar”. Andai dugaanya melesat,
dia perlu mengingat bahwa sesungguhnya malam itu adalah termasuk sepuluh malam
terakhir bulan Ramadhan, malam-malam yang paling utama dalam bulan Ramadhan.
Sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (728 H)
berpendapat bahwa 10 hari terakhir di bulan Ramadhan lebih afdhal (utama) dari
sepuluh malam pertama di bulan Dzulhijjah11.
Wallahu A’lamu bish Shawab.
Sumber: muslim

EmoticonEmoticon